Rida Nadia

My online diary

  • About Me
  • Sponsorship
  • TERMS
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Home
  • ISLAM
  • EDUCATION
  • HEALTH
  • EXPERIENCE
  • INTERESTS
    • SEWING
    • BUSINESS
    • BLOGGING
    • DESIGN
    • MUSIC
    • REVIEW
Showing posts with label CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH. Show all posts
Showing posts with label CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH. Show all posts

July 18, 2016

Etika Mendidik Istri ala Rasulullah

 4:31 PM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH     No comments   

1. Mengarahkan istri dalam hal berbusana

Didiklah istri dalam berpakaian secara sederhana, tidak terlalu mewah atau mengenakan perhiasan yang bagus-bagus karena dengan demikian menyebabkan mereka senang keluar rumah dan hal ini banyak mengandung resiko, kecuali bila ada hal yang penting dan harus disertai mahramnya.

Hadis Nabi saw.:
“Didiklah wanita-wanitamu dengan melucutinya dari pakaian dan perhiasan yang indah-indah, karena sesungguhnya sebagian wanita itu bila memiliki pakaian yang banyak dan perhiasan yang bagus-bagus mereka suka keluar.”
(H.R. Ibnu Ady dari Anas)

2. Sabar dan santun dalam mendidik istri

Dalam upaya mendidik seorang wanita (istri) hendaknya berlaku lembut dan bijaksana tidak terlalu keras ataupun membiarkannya karena bila kita mendidiknya dengan keras maka ia akan patah dan bila dibiarkan maka ia akan semakin bengkok (binal). Suami harus bersikap sabar disertai dengan penuh perhatian apabila ada sesuatu yang tidak berkenan pada istrinya.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah saw. bersabda: berwasiat kebaikanlah kalian di dalam menghadapi kaum wanita karena sesungguhnya wanita itu berasal dari tulang rusuk yang bengkok. Sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas.”
(H.R. asy-Syaikhani)

“Bersikaplah yang baik terhadap wanita karena sesungguhnya mereka diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk tersebut adalah bagian atasnya. Jika engkau memaksa untuk meluruskan tulang rusuk tadi, maka ia akan patah. Namun, jika kamu membiarkan wanita, ia akan selalu bengkok, maka bersikaplah baik terhadap wanita.”
(H.R. Bukhari no. 5184)

Firman Allah swt.:
“Dan bergaulah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.”
(Q.S. an-Nisa’: 19)

Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

8 Etika Minum yang Diajarkan Rasulullah

 4:19 PM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH, ISLAM     No comments   

1. Menyebut nama Allah (Basmalah)

Pada waktu akan  minum hendaknya membaca basmalah dan setelah minum hendaknya membaca hamdalah. 

Hadis Rasulullah saw.:
“Dari Ibnu Abbas r.a berkata : Rasulullah Saw. bersabda: Janganlah kalian minum sekaligus seperti cara minumnya onta tetapi minumnya dua atau tiga kali tegukan danbacalah nama Allah jika akan minum dan bacalah hamdalah jika selesai minum.”
(H.R. Tirmidzi)

Doa ketika minum air zam-zam:
“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas dan kesembuhan dari segala penyakit.”
Adapun doa setelah minum sebagai mana di bawah ini.
“segala puji bagi Allah dengan berkat rahmat-Nya telah menberikan minum air tawar yang segar dan tidak menjadikannya asi lagi pait karena dosa-dosa kami”

2. Tidak minum sekali teguk

Apabila seseorang minum hendaknya meneguknya berkali-kali jangan minum sekali teguk seperti cara minumnya onta, karena dapat menakibatkan penyakit hati, ginjal, dan limpa.
“Apabila kalian minum air, minumlah dengan cara sedikit demi sedikit jangan meminumnya dengan cara sekali teguk karena sesungguhnya hal itu akan menyebabkan penyakit hati (ginjal dan limpa).
(H.R. ad-Dailami)

3. Menggunakan tangan kanan bila hendak minum

Makan, minum atau sesuatu hal yang baik hendaknya menggunakan tangan kanan, karena kebiasaan makan dan minum dengan tangan kiri merupakan perbuatan setan.
Hadis Nabi saw.:
"Dari Ibnu Umar r.a. katanya: Rasulullah saw. bersabda: Apabila kamu makan dan minum, makan dan minumlah dengan tangan kanan karena sesungguhnya seetan biasa makan dan minum dengan tangan kiri."
(H.R. Muslim)

4. Tidak minum langsung dari mulut teko atau kendi

Minum langsung dari mulut teko atau kendi hukumnya makruh karena hal ini selain merupakan perbuatan setan, juga menjijikan orang lain, dan juga dimungkinkan akan meninggalkan bibit-bibit penyakit yang akan membahyakan kesehatan orang lain.
Demikian etika yang diajarkan oleh Rasulullah saw. sebagaimana yang diceritakan dalam hadis berikut.
“Dari Abi Said al-Khudri r.a. berkata: Rasulullah saw. melarang menunggingkan teko, kemudian minum dari mulut teko tersebut.”
(H.R. Muslim)

5. Tidak meniup ke dalam tempat minuman

Meniup-niup minuman yang masih panas hukumnya makruh. Biarkanlah sejenak minuman yang masih panas agar menjadi reda, karena meneguk minuman yang masih panas atau terlalu dingin tidak baik untuk kesehatan. Rasulullah saw. pernah melarang meniup-niup ke dalam minuman.

Perhatikan hadis berikut ini.
“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Bahwasanya Nabi saw. telah melarang bernafas dalam tempat air atau meniup ke dalamnya.”
(H.R. at-Tirmidzi)

6. Minum sambil duduk

Boleh minum sambil berdiri, tetapi bila suasana dalam suatu jamuan memungkinkan duduk hendaknya minum sambil duduk, karena yang demikian lebih baik dari pada berdiri.
Inilah etika yang diajarkan oleh Rasulullah saw. dalam hadis berikut ini.
“Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari neneknya r.a. berkata: Saya telah melihat Rasulullah saw. minum sambil berdiri dan minum sambil duduk.”
(H.R. at-Tirmidzi)

7. Sunnah bernafas di luar gelas atau tempat minuman lainnya

Mengambil nafas di luar gelas setiap kali tegukan, berarti tidak minum sampai habis dengan sekali teguk. Karena bernafas di luar gelas sebanyak tiga kali itu lebih baik dan lebih bagus bagi kesehatan.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. jika minum bernafas sampai tiga kali yakni bernafas di luar tempat minuman.”
(H.R. al—Bukhari dan Muslim)

8. Wadah minuman atau makanan tidak terbuat dari emas atau perak

Wadah minuman atau makanan yang terbuat dari emas atau perak dilarang oleh Nabi saw.
Sebagaimana hadis yang bersumber dari Khudzaifah di bawah ini.
“Dari Khudzaifah r.a. berkata: Rasulullah saw. melarang kita dari pakaian yang terbuat dari sutera yang halus dan tebal, dan minum dari bejana emas atau perak, sambil bersabda: itu semua untuk orang-orang kafir di dunia dan untuk kamu di akhirat.”
(H.R. al—Bukhari dan Muslim)
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

14 Etika Menggauli Istri menurut Syariat Islam

 4:12 PM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH, ISLAM     No comments   

Telah sah menurut syariat bahwa suami yang menggauli istrinya termasuk perbuatan sedekah dan mendapat pahala dari Allah. Menggauli istri merupakan hak dan kewajiban seorang suami. Namun demikian dalam menggauli istrinya, seorang suami tidak boleh hanya mengutamakan kepentingan, tapi juga harus memperhatikan kepentingan istrinya.

Berikut ini etika yang harus diperhatikan suami dalam menggauli istrinya antara lain sebagai berikut.

1. Mengucapkan salam ketika masuk kamar

Suami mengucapkan salam ketika akan masuk ke dalam kamar istrinya, karena melakukan hal yang demikian ini akan memberikan keberkahan dan keharmonisan keluarga.

Hadis Nabi saw.:
“Wahai anakku, jika engkau datang pada keluargamu, maka ucapkanlah salam, maka akan menjadi keberkahan atasmu dan atas keluargamu.”
(H.R. at-Tirmidzi)

2. Mengerjakan shalat sunnah dua rakaat dengan diikuti istri sebagai makmum

Berdoa kepada Allah untuk memohon kebaikan dan keberkahan dalam meniti rumah tangga bersama istri sebagai pendaamping hidup setia.

Hadis Nabi saw.:

“Sesungguhnya rasa kasih sayang itu dari Allah, sedangkan kebecian itu dari setan di mana ia berkeinginan untuk membencikan kepada kalian pada apa yang telah dihalalkan padamu. Maka apabila istrimu datang kepadamu maka perintahkanlah ia agar shalat di belakangmu, dua rakaat dan ucapkanlah doa: Allahumma baarik lii fii ahlii, wabaarik lahum fiyya. Allahummajma’ bainanaa maa jama’ta bikhoirin wafarriq bainanaa idzaa farroqta ilaa khoir (Ya Allah, berilah berkah bagiku dalam keluargaku dan berilah berkah bagi mereka kepadaku, ya Allah kumpulkan antara kami apa yang Engkau kumpulkan dengan kebaikan dan pisahkan antara kami jika Engkau memisahkan untuk menuju kebaikan.”
(Ditakhjirkan oleh Ibnu Abu Syaibah)

3. Memohon kebaikan dari watak dan perangai istri

Memohon kepada Allah akan keberkahan dan kebaikan watak istri sambil meletakkan tangan di atas kepala istrinya.

Hadis Nabi saw.:

“Apabila salah seorang di antara kamu mendekati seorang wanita (istri) maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya sambil membaca basmalah dan memanjatkan do’a:
Allahumma innii as-aluka min khoiriha wa khoiri maa jabaltaha ‘alaihi wa-a’uudzu bika min syarrihaa wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi (Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan kebaikannya dan kebaikan wataknya dan aku mohon perlindungan pada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan wataknya).”
(H.R. al-Bukhari dan Abu Dawud)

4. Badan dalam keadaan bersih

Hendaknya para suami dan istri dalam keadaan bersih dan memakai wangi-wangian yang dapat membantu membangkitkan gairah erotik.

Hadis Nabi saw.:
“Bahwasanya seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw. tentang mandi dari haid. Rasulullah saw, menyuruhnya tentang cara mandi, beliau bersabda: Ambilah sebagian minyak misik lalu bersucilah dengannya, Ia bertanya: Bagaimana aku cara aku bersuci dengannya? Beliau bersabda: Subhanallah, bersucilah! Aisyah berkata, lalu ia saya tarik dan aku pun menjelaskan kepadanya..ikutlah setelah darah dengan minyak misik.”
(H.R. al-Bukhari dan Muslim)

5. Bermesraan (foreplay) sebelum bersetubuh agar masing-masing keduanya mencapai puncak orgasme

Nabi saw. melarang melakukan persetubuhan sebelum bermesraan terlebih dahulu sebagaimana pemanasannya. Apabila seseorang menggauli istrinya yang masih belum terangsang atau belum dalam keadaan siap, maka hal ini akan menyebabkan iritasi pada dinding kemaluannya, kemudian akan menjadi infeksi. Apabila hal ini dilakukan berulang-ulang akibatnya akan membahayakan kedua belah pihak (suami istri). Tiada satu perkara pun yang dianjurkan oleh Nabi saw. melainkan di dalamnya terkandung manfaat dan tiada sesuatu yang dilarang oleh Nabi melainkan di dalamnya terkandung bahaya dan mudarat.

Hadis Nabi saw.:
“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang mengumpuli, tetapi agar ada utusan antara keduanya, maka ditanyakan: Apakah yang dimaksud dengan utusan itu? Beliau bersabda yaitu mencium dan bercanda (cumbu rayu).”
(H.R. ad-Dailami)

6. Memperhatikan syahwat istri (pasangan)

Suami hendaknnya memperhatikan syahwat istrinya, tidak boleh berlaku egois untuk mendapatkan kepuasan sendiri tanpa memperhatikan syahwat istrinya. Usahakan untuk mencapai orgasme secara bersamaan, karena akan menambah kenikmatan coitus yang tiada tara.

7. Menutup diri dengan selimut saat senggama

Bersenggama dengan tubuh telanjang akan menambah kenikmatan, tetapi hendaknya menutup dengan selimut, karena orang yang beriman merasa malu dirinya dilihat oleh Allah dalam keadaan telanjang bulat.

Hadis Nabi saw.:
“Apabila kamu mendatangi istrimu hendaknya bersselimut janganlah bertelanjang seperti telanjangnya binatang.”
(H.R. Ibnu Majah)

8. Berdoa mohon perlindungan dari campur tangan setan

Saat akan bersenggama disunatkan untuk membaca basmalah dan mohon perlindungan kepada Allah dari campur tangan setan. Adapun doa yang dibaca sebagaimana dalam hadis berikut.
“Rasulullah saw. bersabda: Kalaulah mereka bila hendak menggauli istrinya, lalu membaca doa: Bismillaahi Allhaumma jannibnasy syaithoona wajannabisy syaithoona maa rozaqtanaa (Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kiranya setan dari kami dan jauhkan setan dari anak yang Engkau berikan kepada kami) kalau ditakdirkan keduanya dikaruniai anak, niscaya untuk selamanya setan tidak akan membahayakan kepada anak itu.”
(H.R. Muslim) 

9. Suami bebas menggaulinya dengan cara yang disukainya asal tidak pada lubang duburnya

Islam melarang keras perilaku seksual seperti sodomi (hubungan seksual lewat anus), homoseksual, lesbian atau melepaskan nafsu seksualnya dengan sesama jenisnya, dan bestialti (bersetubuh dengan hewan), karena menyalahi fitrah dan aturan agama sebagaimana yang pernah dilakukan kaum Nabi Luth.

Firman Allah swt.:
“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai.”
(Q.S. al-Baqarah)

Hadis Nabi saw.:
“Sungguh terlaknat/terkutuk orang yang mengumpuli wanita (istri) pada lubang duburnya.”
(H.R. Ibnu Addy, Abu Dawud dan Ahmad)

Diriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang kalian temui melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah kedua pelakunya.”
(H.R. Ibnu Majah, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nisa’i)

Hadis Nabi saw.:
“Barangsiapa yang berhubungan kelamin dengan hewan maka bunuhlah ia dan bunuhlah (pula) hewannya.”
(H.R. at-Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad)

10. Istri harus dalam keadaan suci

Tidak boleh jima’ atau mengumpuli istri yang sedang menstruasi atau nifas karena dilarang agama dan juga tidak baik untuk kesehatan, karena akan memberikan pengaruh negatif terhadap keduanya dan anak yang akan dilahirkannya.

Firman Allah swt.:
“Karena itu jauhilah istri pada waktu haid, dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci . Apabila mereka telah suci campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu.”
(Q.S. al-Baqarah: 222)

11. Boleh melakukan Azl (Coitus Interuptus)

Pada dasarnya Islam menyukai banyak anak, karena hal ini sebagai tanda dari adanya kekuatan daya pertahanan terhadap umat dan bangsa lain. Sebagaimana dikatakan bahwa kebesaran terletak pada keturunan yang banyak, karena itu Islam mensyariatkan kawin.

Hadis Nabi saw.:
“Kawinlah dengan wanita yang subur lagi pecinta. Karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kaum pada umat-umat lain pada hari kiamat nanti.”
(H.R. Ahmad)

Namun demikian, dalam keadaan-keadaan tertentu Islam tidak mengahalangi pembatasan kelahiran bagi yang sudah banyak anaknya sedangkan ekonomi keluarganya lemah dan tidak sanggup lagi memikul biaya pendidikan anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.

Pembatasan atau pengaturan kelahiran dapat dilakukan dengan cara pengobatan mencegah kehamilan dengan program KB seperti spiral, IUD, atau dengna melakukan azl (mengeluarkan sperma di luar rahim istrinya).

Hadis Nabi saw.:
“Dari Jabir berkata: Kami dahulu di zaman Nabi saw. melakukan azl sedang Al-Qur’an masih turun.”
(H.R. al-Bukhari dan Muslim)

“Dari Jabir berkata: Kami dahulu di zaman Rasululla saw. melakukan azl. Hal ini sampai pada Rasulullah tapi Beliau tidak melarang kami.”
(H.R. Muslim)

12. Berwudhu atau mandi setiap kali akan senggama

Bila suami istri akan senggama disunatkan untuk berwudhu, jika ia mandi terlebih dahulu itu lebih baik, karena disamping menjaga kebersihan juga akan menambah kesegaran tubuh.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Abu Said Al Khudri r.a. katanya Rasulullah saw. bersabda: Apabila kamu bersenggama kemudian hendak mengulanginya lagi maka hendaklah berwudhu lebih dahulu.”
(H.R. Muslim)

13. Berdoa setelah melakukan senggama

Bila istri telah melakukan hajatnya hendaknya berdoa semoga benih yang ditanam bersemi dengan baik. 
Adapun doanya sebagai berikut.

Alhamdu lillaahil ladzii kholaqo minal maa’i basyaroo.
Artinya:
“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan manusia dari air.”

14. Suami atau istri tidak boleh membuka rahasia atau cerita tentang hubungan suami istri di tempat tidur

Aktivitas di tempat tidur menjadi rahasia pasutri untuk saling menutupi hal-hal yang tabu, juga dari kekurangan dan kelemahan masing-masing.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Abu Sa’id Al Khudri katanya: Rasulullah saw. bersabda: Seburuk-buruk tempat manusia di sisi Allah kelak di hari kiamat ialah tempat suami yang telak saling percaya mempercayai istrinya, tetapi kemudian si suami membuka rahasia pribadi istrinya sendiri.”
(H.R. Muslim)
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

Etika Mencari Rezeki agar Mendapat Keberkahan dari Allah

 3:36 PM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH, ISLAM     No comments   


Persoalan mencari rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh kehendak manusia melainkan berkaitan erat dengan kudrat dan iradat Allah swt.
Allah swt. Telah menciptakan semua yang ada di bumi ini untuk manusia, maka carilah karunia Allah tersebut. Islam menyuruh agar kita bekerja, berusaha mencari rezeki dengan mengikuti aturan-aturan-Nya antara lain sebagai berikut.

1. Memperhatikan halal dan haram

Di dalam mencari rezeki hendaklah memperhatikan halal dan haramnya, baik dan buruknya. Karena mencari rezeki yang halal itu wajib hukumnya, tidak boleh mengikuti kehendak nafsu yang menyimpang ajarran Islam dan langkah-langkah setan karena rezeki yang tidak halal akan berpengaruh negatif dalam segi hidup dan kehidupan baik pelakunya sendiri maupun masyarakat sekitarnya.

Firman Allah swt.:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
(Q.S. al-Baqarah: 168)

Hadis Nabi saw.:
“Sesungguhnya Allah suka kalau Dia melihat hambaNya berusaha mencari barang halal.”
(H.R. ath-Thabrani dan ad-Dailami)

“Mencari barang halal hukumnya wajib bagi setiap orang muslim.”
(H.R. ath-Thabrani)

2. Mencari rezeki dengan cara yang mulia tidak mengorbankan harga diri

Carilah rezeki yang memenuhi kebutuhann hidup dengan tetap menjaga harga diri dan dengan cara-cara yang mulia, tidak dengan cara yang mengemis-ngemis, menjilat atasan dan menginjak bawahan serta cara-cara lainnya yang rendah dan nista.

Hadis Nabi saw.:
“Carilah kebutuhan-kebutuhan hidup kalian dengan cara yang mulia karena sesungguhnya perkara itu berjalan sesuai takdir.”
(H.R. Ibnu ‘Asakir)

3. Menjauhi sifat meminta-minta

Carilah rezeki dengan bekerja bukan dengan cara meminta-minta karena Allah menyukai hamba-hamba yang suka bekerja keras bukan sebagai peminta-minta.

Firman Allah swt.:
“Katakanlah (Muhammad) wahai kaumku! Akupun berbuat (demikian), sesungguhnya kelak kamu akan mengetahui.”
(Q.S. az-Zumar: 39)

Hadis Nabi saw.;
“Dari Zubair bin Awwam r.a., dari Rasulullah saw. bersabda: salah seorang dari kamu mengambil tali lalu memikul setumpuk kayu di atas pundaknya kemudian dia menjualnya, maka Allah akan menghindarkan dia dari kehinaan, mencari kayu adalah lebih baik baginya daripada meminta dari orang banyak, baik mereka memberinya atau tidak memberinya.”
(H.R. al-Bukhari)

Hadis Nabi saw.:
“Dari al Miqdam bin Ma’dikarib r.a. dari Nabi saw. bersabda: Tiada seorang yang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri.”
(H.R. al-Bukhari)

4. Berusaha dan bertawakal kepada Allah swt.

Bila mempunyai suatu hajat hendaklah berusaha dengan berikhtiar dengan sungguh-sungguh kemudian menyerahkannya kepada Allah sambil berdoa, maka mungkin segera juga Allah akan membantunya tetapi jika hanya menggantungkan pada bantuan manusia semata-mata maka jauh kemungkinan untuk tercapai.


Hadis Nabi saw.:
“Dari Umar r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Andaikan kamu bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh niscaya Allah akan memberi rezeki kepadamu sebagaimana burung yang keluar pagi hari dengan perut kosong (lapar) dan kembali sore hari dengan perut kenyang.”
(H.R. at-Tirmidzi)

Hadis Nabi saw.:
“Dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang tertimpa bala atau penderitaan, lalu disampaikannya kepada manusia, maka tidak akan tertutup hajat kebutuhannya dan jika diadukan kepada Allah memberi rezeki dengan segera atau lambat.”
(H.R. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

5. Bersemangat dalam bekerja

Bersungguh-sungguh dan semangat dalam bekerja atau bekerja mencari rezeki yang halal untuk membiayai kebutuhan anak, istri dan orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Hadis Nabi saw.:
“Bekerjalah untuk kehidupan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah (beribadah) untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.”
(H.R. Ibnu ‘Akasir)

6. Bekerja secara professional

Pekerjaan yang tidak ditangani oleh orang yang bukan ahlinya hasilnya tidak akan memuaskan bahkan kemungkinan gagal dan tidak berhasil.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi.
“Dari Abu Hurairah r.a. katanya: Rasulullah saw. bersabda: “Kalau amanah tidak dipegang teguh maka tunggulah saat kehancurannya” ia bertanya “bagaimanakah orang yang tidak memegang teguh amanat itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: “Kalau sesuatu urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah saat kehancurannya.”
(H.R. al-Bukhari)

Dalam hadis Nabi saw. yang lain disebutkan:
“Sesungguhnya Allah menyukai apabila seseorang di antara kamu sekalian melakukan melakukan suatu pekerjaan lalu dia menyelesaikannya dengan baik.”
(H.R. at-Thabrani)

7. Giat dan lincah dalam berusaha

Berpagi hari dalam berusaha akan memungkinkan kemudahan- kemudahan dan kelancaran dalam mencari rezeki.

Hadis Nabi saw.:
“Berpagi-pagilah kalian dalam mencari rezeki dan keperluan, karena sesungguhnya keberkahan dan keberhasilan itu terletak di pagi hari.”
(H.R. Ibnu ‘Addy dari Aisyah)

8. Menghindari syubhat

Sesuatu yang masih diragukan status hukumnya antara halal dan haram hendaknya ditinggalkan agar tidak terperosok ke dalam perkara haram.

Hadis Nabi saw.:
“Dari al-Hasan bin Ali r.a. berkata: Saya ingat dari ajaran Rasulullah saw.: Tinggalkan apa yanng masih ragu dan kerjakan apa yang tidak meragukanmu.”
(H.R. at-Tirmidzi)
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

June 24, 2016

CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH: 10 Etika bagi Orang yang Berpuasa

 10:13 AM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH, ISLAM     No comments   


Puasa adalah menahan diri dari hawa nafsu, keinginan makan, minum, bersetubuh dengan istri dan yang sejenisnya sejak terbitnya fajar sidhiq hingga terbenamnya matahari dengan niat mendekatkan diri kepada Allah swt. Oleh karena itu perhatikan hal-hal yang berkaitan denga puasa berikut ini agar puasa kita ada nilai di sisi Allah swt.

1.   Menyegerakan berbuka puasa
Merupakan sunnah Nabi saw. bila waktu maghrib telah yakin tiba hendaknya segerakan berbuka puasa sebelum mengerjakan shalat magrhrib walau hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air. Sebagaimana sabda Nabi saw.:
“Dari Sahl bin Said r.a. Rasulullah saw. telah bersabda: Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan.”
(H.R. al-Bukhari)

2.   Berbuka puasa disunnahkan ta’jil dengan kurma
Awalilah berbuka puasa dengan kurma sebelum memakan yang lainnya dan disamaka dengan buah kurma makanan lainnya yang mengandung manis-manis, bila seseorang tidak mendapatkan kurma untuk berbuka puasa maka ia dianjurkan meminum air putih terlebih dahulu. Dianjurkan demikian karena buah kurma mengandung berkah, lebih banyak manfaatnya untuk meguatkan tubuh terutama untuk mata sedangkan air mengandung kesucian dan sangat berguna untuk membasahi hati yang telah kering sepanjang hari.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Anas, Nabi saw. biasa berbuka dengan rotab (kurma gemadung) sebelum shalat; kalau tidak ada, dengan kurma, kalau tidak ada juga, Beliau meminum beberapa teguk air.”
(H.R. at-Tirmidzi)

3.   Membaca doa ketika akan berbuka puasa
Disunnahkan membaca doa terlebih dahulu sebelum berbuka puasa.

4.   Mengakhirkan makan sahur
Makan sahur itu banyak mengandung berkah, bersahurlah walau dengan seteguk air. Adapun waktu makan sahur disunnahkan sesudah tengah malam, agar dapat memberikan kekuatan dalam berpuasa. Rasulullah saw. biasa makan sahur di ketika hampir subuh. Disunnahkan makan sahur ini juga menjadi pembeda dari puasanya kaum muslimin dengan puasanya ahlul kitab.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Abi Dzar: Rasulullah saw. bersabda: Umatku senantiasa dalam kebaikan selama mereka mengakhirkan sahur da menyegerakan berbuka.”
(H.R. Ahmad)

5.   Tidak melayani emosi atau makian orang lain
Bagi orang yang berpuasa dituntut agar dapat menahan diri dari emosi dan tindakan yang tidak terpuji, bila ada yang memancing emosi atau cercaan orang terhadap dirinya hendaknya tidak melayaninya dann katakanlah kepadanya bahwa saya sedang berpuasa.
Bila hal tersebut dapat dilakukan berarti puasanya terpelihara dari gangguan-gangguan yang dapat menghilangkan pahala ibadah puasa.

Sabda Nabi saw.:
“Dari Abu Hurairah, berkata: Rasulullah saw. bersabda: Bukanlah orang yang berpuasa itu karena tidak makan dan minum, akan tetapi yang dinamakan berpuasa adalah karena meninggalkan perkataan yang sia-sia dan jorok. Karena itu jika ada orangyang memakimu atau berbuat jahil kepadamu katakanlah: Aku sedang berpuasa, Aku sedang berpuasa.”
(H.R. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

6.   Berlaku jujur dengan meninggalkan ucapan dan perbuatan yang sia-sia
Orang yang berpuasa harus senantiasa berperlakubaik, jujur dan terpuji agar mendapat ridha Allah swt. Karena orang yang berpuasa tidak mampu meninggalkan perbuatan dusta tersebut, maka ia tidak akan mendapatkan pahala puasanya sedikit pun.

Sabda Nabi saw.:
“Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan jahat, maka Allah tidak memerlukan perbuatannya dalam meninggalkan makan dan minum.”
(H.R. al-Bukhari)

7.   Menahan diri dari nafsu birahi di siang hari
Pasangan suami istri harus saling menahan dorongan birahi untuk bersetubuh di siang bulan Ramadhan. Bila mereka melakukan hubungan badan di siang bulan Ramadhan maka salah satu di antara suami atau istri harus membayar salah satu kifarat atau denda berikut ini.

a.   Memerdekakan seorang budak;
b. Jika tidak mampu memerdekakan seorang budak atau sulit/tidak ada budak maka ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut;
c.   Bila tidak mampu maka ia harus memberi makan 60 orang fakir miskin;
d.   Bila tidak mampu ia harus bersedekah menurut kemampuannya;
e.   Bila tidak mampu juga, ia bebas dari kifarat atau denda tersebut.

Hadis Nabi saw.:
“Dari Abu Hurairah, berkata:Telah datang seseorang kepada Nabi saw. lalu ia berkata: Saya telah binasa, wahai Rasulullah. Rasulullah bersabda: Apa yang membinasakanmu? Jawabnya: Saya telah menyetubuhi istri saya pada bulan Ramadhan, kemudian Nabi bertanya: Apakah engkau mampu memerdekakan budak? Jawabnya: Tidak. Nabi bertanya: Mampukah engkau dua bulan puasa berturut-turut. Jawbanya: Tidak! Nabi bertanya lagi: Mampukah engkau memberi makan 60 orang miskin. Jawabnya: Tidak! Kemudian ia duduk. Lalu ada orang yang membawakan kepada Nabi segantang kurma lalu Nabi bersabda: sedekahkanlah ini. Lalu ia menjawab: Apakah diberikan kepada orang yang lebih miskin dari pada kami? Karena tidak ada penghuni rumah yang ada di antara dua batu hitam yang lebih memerlukan makanan dan minum dari pada kami. Lalu Nabi tertawa hingga gigi taringnya kelihatan, kemudian bersabda: Pergilah dan berikanlah makanan ini kepada keluargamu.”
(H.R. Muslim)

8.   Memperbanyak doa ketika berbuka
Doa orang yang berbuka puasa baik puasa wajib maupun sunnah tidak akan disia-siakan, karena doanya akan diterima oleh Allah swt. Terlebih memohon rahmat dan ampunan-Nya.

Sabda Nabi saw.:
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash, berkata: Rasulullah saw. bersabda: Bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak akan ditolak ketika berbuka berdoa: Allaahumma as-aluka bi rohmatika allatii wasi’at kulla syai’in antaghfirolii (Wahai Tuhan, aku mohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala-galanya agar Engkau ampuni aku.”
(H.R. Ibnu Majah)

9.   Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia di antara bulan-bulan lainnya. Merupakan kesempatan terbaik dan terbesar bagi kaum muslimin untuk meningkatkan amal dan ibadah di bulan Ramadhan. Rasulullah berlaku lebih dermawan lagi di waktu bulan Ramadhan, untuk itu setiap muslim yang mampu hendaknya memperbanyak sedekah dan tadarus Al-Qur’an karena akan menambah kebajikan kita berlipat-lipat di bulan Ramadhan.

Sabda Nabi saw.:
“Dari Ibnu Abbas, berkata: Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan dan lebih besar kedermawannya pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan, lalu tadaru Al-Qur’an (dengan pelan). Sungguh Rasulullah ketika ditemui Jibril menjadi orang yang lebih bermurah hati dalam memberikan kebaikan sehingga lebih banyak daripada tiupan angin.”
(H.R. Muslim)

10.               Menghiduokan bulan Ramadhan dengan qiyamul lail dan i’tikaf
Pada malam Ramadhan hendaknya melaksanakan salat Tarawih, terlebih sepuluh hari akhir bulan Ramadhan hendak-nya lebih giat lagi beribadah dan i’tikaf di masjid menyambut malam lailatul qadar.

Sabda Nabi saw. :
“Dari Aisyah r.a. berkata: Apabila telah masuk sepuluh hari yang terakhir bulan Ramadhan, Nabi saw. lebih giat lagi beribadat menghidupkan malam-malamnya. Beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah, Beliau lebih tekun dan Beliau mengencangkan ikat sarungnya (menjauhi istrinya untuk lebih banyak mendekati Allah swt.).”
(H.R. Muslim)

Sabda Nabi saw. :
“Barangsiapa mengerjakan ibadah di malam lailatul qadar karena imannya kepada Allah dan karena mengharapkan rida-Nya, maka diampunilah dosanya yang telah lalu.”
(H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Adapun doa yang dibaca pada malam lailatul qadar adalah.

Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni (Ya Allah! Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang Maha pemaaf. Engkau suka memberi maaf, maka maafkanlah aku.
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

June 23, 2016

CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH: 17 Etika Makan menurut Islam – Nomor 4 Bisa Mengantarkan Kita ke Syurga

 7:52 PM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH, ISLAM     No comments   

Seorang muslim bilamana makan hendaknya diniatkan agar kuat melaksanakan ibadah. Namun Nabi saw. Pun melarang seseorang yang berniat akan berpuasa terus menerus, karena setiap anggota tubuh mempunyai hak yang harus dipenuhi yaitu makan dan minum.
Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia berpengaruh besar terhadap kesehatan dan pertumbuhan jasmani dan rohani, bahkan dapat membentuk citra kepribadian dan mental bagi seseorang yang mengonsumsinya.
Berikut ini beberapa etika Islam dalam hal makan dan minum sebagai berikut.

1.   Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Sebelum makan, tangan harus dibersihkan dengan air terlebih dahulu, sama seperti membasuh tangan dalam berwudhu ketika kita akan shalat, agar semua kotoran yang melekat pada hilang, tidak ikut masuk ke dalam perut bersama makanan yang seringkali membawa dan menimbulkan penyakit.
Adapun membasuh tangan sesudah makan bertujuan agar segala bau dan sisa-sisa makanan yang masih menempel pada jari-jari tangan itu menjadi hilang sehingga tangan tetap bersih dan sehat.
Sebagaimana dalam hadis berikut ini.
“Keberkahan makanan terletak pada mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.”
(H.R. Abu Dawud)

2.   Menyebut nama Allah pada mulanya dan Alhamdulillah pada akhirnya
Apabila seseorang hendak makan terlebih dahulu membaca basmalah dan doa agar makan kita mengandung berkah dan setan tidak dapat turut serta makan bersama kita.

3.   Disunnahkan makan berjamaah
Disunnahkan makan bersama-sama dengan memperbanyak anggota, baik dengan anggota keluarga maupun orang lain, karena akan memberikan keberkahan.
Sabda Nabi saw. :
“Dari Jabir r.a. saya telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: makanan satu orang mencukupi untuk dua orang, dan makanan dua orang cukup buat empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.”
(H.R. Muslim)

4.   Rela dengan makanan yang telah dihidangkan
Bersikap qonaah yakni menerima dan bersyukur atas rezeki dan nikmat yang diperolehnya.
Hadis Nabi saw. :
“Barangsiapa yang rela atau menerima dengan rezeki yang sedikit dari Allah, maka Allah juga rela dengan sedikit amal dari padanya.”
(H.R. al-Baihaqi)
Seorang muslim harus mensyukuri nikmat Allah walau sekecil apapun, karena sikap syukur dan qonaah ini akan menjadikan nikmat itu semakin bertambah besar.
Firman Allah swt. :
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka azab-Ku sangat berat.”
(Q.S. Ibrahim: 7)

5.   Menggunakan tangan kanan ketika makan dan minum
Nabi Muhammad saw. senantiasa mengajarkan dan memberikan suri tauladan kepada umatnya dalam hal makan dan minum dengan meggunakan tangan kanan, sebab setan bila makan atau minum selalu menggunakan tangan kiri.
Begitupun dalam hal yang baik, hendaknya menggunakan dan mendahulukan yang kanan. Hadis Nabi saw. :
“Dari Ibnu Umar r.a. katanya Rasulullah saw. bersabda: Apabila kamu makan dan minum, maka makan dan minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya setan bila makan dan minum menggunkan tangan kirinya.”
(H.R. Muslim)

6.   Sunnah melepas alas kaki ketika makan
Melepas sandal atau sepatu ketika makan dapat memberikan rasa nyaman bagi kedua telapak kaki. Sabda Nabi saw. :
“Apabila disuguhkan kepada seorang di antara kalian makanan sedangkan ia masih memakai kedua sandalnya, maka hendaklah ia melepaskan kedua sandalnya itu, karena sesungguhnya hal itu lebih enak bagi kedua telapak kakinya  dan hal itu merupakan sunnah.”
 (H.R. Abu Ya’la dari Anas)

7.   Mendinginkan makanan sebelum dimakan
Memakan makanan yang masih panas hukumnya makruh karena dapat merusak kesehatan. Oleh karena itu hendaknya bila seseorang mau maka, terlebih dahulu mendinginkan dulu makanannya beberapa saat hingga tidak terlalu panas, sehingga makanan tersebut membawa berkah dan bukan mengakibatkan penyakit.
Hadis Nabi saw. :
“Nabi saw. melarang memakan makanan yang masih panas kecuali panasnya telah reda.”
(H.R. ath-Thabrani)

8.   Makanlah makanan dengan posisi duduk yang baik
Makruh hukumnya makan sambil bersandar karena membahayakan bagi kesehatan. Makann dengan posisi duduk tegak lurus akan mempermudah dan memperlancar makanan masuk ke dalam perut sehingga mudah dicerna dengan baik. Sabda Nabi saw. :
“Dari Abi Juhaifah Wahb bin Abdullah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Saya tidak pernah makan sambil bersandar.”
(H.R. al-Bukhari)

9.   Makruh meniup-niup makanan
Meniup makanan atau minuman yang masih panas termasuk perbuatan makruh. Biarkanlah makanan atau minuman itu hingga panasnya reda. Hadis Nabi saw. :
“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Bahwa Nabi saw. telah melarang berafas dalam tempat air dan meniup-niup makanan dan minuman.”
(H.R. at-Tirmidzi)

10.               Tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum keyang
Makan terlalu banyak hukumnya makruh, apalagi berlebihan atau melampaui batas, karena hal ini akan menyebabkan orang menjadi pemalas nahkan kurang baik bagi kesehatan.
Firman Allah swt. :
“Makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
(Q.S. al-A’raf: 31)
Dalam Hadis Nabi saw. dijelaskan dengan rinci dan jelas porsi makanan yang ideal untuk dikosumsi perut.
“Anak Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang rusuknya. Jikapun ingin berbuat lebih, maka 1/3 rongga perutnya untuk makanan dan 1/3 untuk minuman dan 1/3 rongga perutnya lagi untuk nafasnya.”
(H.R. at-Tirmidzi)

11.               Sunnah makan dengan menggunakan tiga jari
Rasulullah saw. bila makan menggunaka tiga jari, disunahkan demikian agar kita makan dengan menyedikitkan suapan. Sebagaimana yang diceritakan dalam hadis berikut.
“Dari Ibnu Ka’ab bin Malik, dari bapaknya berkata: Rasulullah saw. makan dengan tiga jari dan mengulum tangannya (jari-jarinya) sebelum mengusapnya.”
(H.R. Muslim)

12.               Disunnahkan bila makan dimulai dari pinggir
Rasulullah saw. apabila makan selalu memulainya dari pinggir agar keberkahan dapat dirunut dari awal sampai akhir. Sabda Nabi saw. :
“Dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Berkah itu turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari tepi-tepinya dan jangan makan dari tengah-tengahnya.”
(H.R. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

13.               Mengambil makanan yang terjatuh
Bila kita makan kemudian ada yang terjatuh maka ambilah makanan tersebut dengan membuang sisa makanan yang kotor dan mengulum jari-jarinya setelah makan sebelum dibersihkan dengan sapu tangan atau air, karena kita tak pernah  tahu di bagian manakah berkah Allah hadir pada makanan yang sedang kita makan.
Hadis Nabi saw.:
“Dari Jabir r.a. berkata: Rasulullah telah bersabda: Apabila suapanmu jatuh, ambilah kembali lalu buang bagian yang kotor dan makanlah bagian yang bersih. Janganlah engkau membersihkan tanganmu dengan lap (sapu tangan) sebelum engkau mengulum jari-jarimu. Karena kamu tidak mengetahui makanan mana yang membawa berkah.”
(H.R. Muslim)

14.               Makruh mencela makanan dan sunnah memujinya
Bila di antara kita dihidangkan makanan yang tidak disukaiya hendaknya jangan mencelanya, lebih baik diam atau membiarkannya. Etika demikian sering dilakukan oleh Rasulullah saw., sebagaimana yang diceritakan dalam hadis berikut ini.
“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. tidak pernah mencela makanan apapun, sekali-kali tidak. Apabila Beliau menyukai suatu makanan dimakannya dan apabila Beliau tidak menyukainya dibiarkannya.”
(H.R. Muslim)

15.               Melumat atau mengunyah makanan dengan dzikrullah
Hal ini dimaksudkan bahwa tujuan makan itu agar kuat dalam melaksanakan ibadah, dan janngan sekali-kali tidur sehabis makan karena hal ini akan menyebabkan seeseorang berperut besar dan pemalas.
Hadis Nabi saw. :
“Lumatkanlah makanan kalian dengan dzikrullah dan shalat dan janganlah kalian tidur setelah makan, karena akan menyebabkan hati kalian menjadi sesat (keras).”
(H.R. Abu Nu’aim)

16.               Mendahulukan makan sebelum shalat
Apabila waktu shalat telah tiba, sedangkan makan malam telah dihidangkan maka hendaknya makan malam terlebih dahulu, kemudian shalat Isya‘. Hal ini dimaksudkan mengerjakan ibadah dalam keadaan perut tidak lapar akan membantu kosentrasi dan ketenangan kita dalam shalat, sebagaimana dijelaska dalam hadis Nabi saw. :
“Apabila makanan malam telah terhidang, sedangkan shalat didirikan maka makan malamlah terlebih dahulu.”
(H.R. al-Bukhari)

17.               Mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib
Seseorang yang membiasakan makan makanan yang kotor atau minuman yang memabukkan akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan jasmani dan rohani. Mengonsumsi makanan dan minuman yang halal dan thayyib tidak dapat dipisahkan, karena dengan sesuatu yang halal kita akan terlepas dari pengaruh negatif baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan higienis dan bergizi (thayyib) baik untuk kesehatan tubuh.
Firman Allah:
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.”

(Q.S. al-Baqarah: 168)
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg

6 Etika Hendak Tidur agar Bernilai Ibadah

 7:39 PM     CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH, ISLAM     No comments   


Tidur adalah fitrah bagi manusia. Dengan tidur maka tubuh dan pikiran diberi kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga kembali. Namun sebagai manusia tidak akan pernah tahu, apakah setelah tidur kita dapat bangun lagi atau apa yang akan terjadi pada kita, keluarga dan harta benda kita selama kita tidur? Untuk itulah dalam tidur pun diperlukan adab atau etika dan juga doa-doa tertentu yang perlu kita amalkan agar tidur kita bernilai ibadah.
Agama Islam mengatur tentang etika tidur yang baik, antara lain sebagai berikut.

1.   Memadamkan api atau mematikan lampu sebelum tidur
Bila kita akan beranjak tidur, hendaknya memadamkan api terlebih dahulu untuk menghindari kemungkinan bahaya atau risiko kebakaran yang akan terjadi, berapa banyak rumah yang terbakar akibat lalai memadamkan api, karena api itu musuh kita, maka apabila kita hendak tidur padamkanlah api terlebih dahulu.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang artinya:
“Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a. katanya: Pada suatu malam sebuah rumah penduduk Madinah terbakar, ketika peristiwa itu dikabarkan orang kepada Rasulullah SAW beliau bersabda: Sesungguhnya api itu merupakan musuh kalian, oleh karena itu apabila kalian hendak tidur padamkanlah terlebih dahulu.”
(H.R. Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadis Nabi SAW yang lain disebutkan yang artinya:
“Dari Abi Salim berkata, dari Nabi SAW bersabda: Jangan biarkan api menyala di rumahmu ketika kamu tidur.”
(H.R. Muttafaq ‘alaih)

2.   Mengambil air wudhu dan berdoa sebelum tidur
Ketika hendak tidur tubuh hendaknya dalam keadaan yang bersih baik dari kotoran hadas maupun najis, karena akan dapat memberikan kenyamanan dan ketenangan , bahkan tidurnya pun termasuk ibadah, untuk itu berwudhulah ketika akan tidur sebagaimana  wudhu untuk shalat dan berdoa sambil membaringkan lambung ke sebelah kanan, agar makanan yang ada dalam lambung berada pada posisi yang benar-benar mantap karena lambung terletak agak condong ke samping kiri.
Sebagaimana dijelaskan dalam hadis berikut ini yang artinya:
“Dari al-Barra bin Azib r.a. berkata, Rasulullah SAW mengajarkan kepada saya Apabila engkau hendak tidur maka berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian rebahkanlah dirimu pada lambung kananmu, kemudian ucapkanlah doa: Allahumma aslamtu wajhi ilaika, wafawwadhtu amrii ilaika, wa alja’tu zhahrii ilaika, rohbatan ilaika laa, malja-a walaa mangjaa mingka illlaa ilaika. Allahumma aamantu bikitaabikaal ladzii angzalta, wanabiyyikal ladzii arsalta (Ya Allah, saya serahkan diriku kepadaMu, serta aku memohon perlindungan diri kepadaMu dengan mengharap diri mendapat pahala-Mu, tiada tempat untuk berkindung dan tiada jalan selamat dariMu, kecuali hanya kembali kepadaMu. Ya Allah, saya beriman kepada NabiMu yang  telah engkau utus).”
(H.R. Muttafaq ‘alaih)
Pada hadis Nabi SAW lain dijelaskan tentang posisi tidur dan bacaannya, yang artinya:
“Apabila Nabi SAW hendak tidur Beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi, kemudian mengucapkan do’a: Allaahumma qinii’adzaabaka yauma tab’atsu ibaadak (Ya Allah perihalah diriku dari azabMu kelak di hari Engkau membangkitkan semua hamba-hambaMu) tiga kali.
(H.R. Abu Dawud)

3.   Mengunci jendela serta menutup tempat minuman dan makanan
Islam mengatur hal yang demikian ini agar kita merasa aman dan terjaga dari kemungkinan pencurian serta bahaya penyakit yang masuk ke dalam tempat minuman dan makanan yang disebarkan oleh binatang atau bibit penyakit yang datang di malam hari.
Seperti Hadis Nabi SAW yang artinya:
“Dari Jabir r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: tutuplah wadah-wadahmu dan ikatlah tempat airmu, dan tutuplah pintumu dan padamkanlah lampu karena setan tidak membuka ikatan atau pintu tertutup dan tidak membuka tutup wadah walaupun tidak dapat ditutup kecuali dengan lidi yang diletakkan di atas tempat minuman dengan menyebut nama Allah, maka harus dikerjakannya, karena tikus jahat dapat terbakar api sehingga membakar seisi rumah.”
(H.R. Muslim)

4.   Berdoa ketika mendapat mimpi
Etika bila seseorang mendapat mimpi yang baik hendaknya memuji kepada Allah dengan mengucapkan Alhamdulillah, dan boleh menceritakan kepada orang lain, karena sebenarnya mimpi itu dari Allah. Sedangkan apabila seseorang mendapat mimpi buruk maka hendaknya memohon perlindungan kepada Allah dari pengaruh mimpi buruk tersebut dan jangan menceritakannya kepada siapa pun karena mimpi tersebut berasal dari bisikan setan yang dibisikanya kepada seseorang yang sedang tidur.
Sebagaimana diterangkan dalam Hadis Nabi yang artinya:
“Dari Abi Sa’id Al Khudri, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang di antara kalian bermimpi yang disukainya berarti mimpi itu datang dari Allah, maka hendaklah memuji Allah dan menceritakannya kepada orang lain, dan apabila mimpi yang tidak disukai, hal ini datang dari setan, maka hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dan janganlah menceritakannya kepada siapa pun, niscaya mimpi tersebut tidak akan membahayakannya.”
(H.R. al-Bukhari)
Bacaan ketika mendapat mimpi baik:
Alhamdu lillaahi robbil ‘aalamiin (Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam)
 Bacaan ketika mendapat mimpi buruk:
Allaahumma inni a’uuzubika min ‘amalis syaithooni wa sayyi-aatil ahlaam (Ya Allah sesungguhnya a aku memohon perlindungan-Mu dari tingkah laku setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk).”
(H.R. Ibnu Sinni)

5.   Berdoa ketika terkejut dari mimpi
Apabila seseorang terjaga dari mimpinya pada tenngah malam, disunahkan untuk membaca doa sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW dalam hadis yang artinya:
“Apabila Rasulullah SAW terbangun dari tidurnya di malam hari, beliau selalu mengucapkan doa: Laa-ilaaha illahhaahulwaahidul qohhar, rabbus samaawaati wal ardhi wamaa bainahumal ‘aziizul ghoffaar (tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, rabb pennguasa langit dan bumi, serta yang ada di antara keduanya, Tuhan yang Maha Mulia da Maha Pengampun).”
(H.R. al-Hakim dari Aisyah)

6.   Berdoa ketika bagun tidur
Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah membagkitkan kita dari tidur, hendaklah berdoa ketika bangun tidur seperti yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW dalam berikut ini:
Alhamdu lillaahil ladzii rodda ‘alayya ruuhii wa-‘aafaanii fii jasadii wa-adzinalii bidzikrih
Artinya:

“Segala puji bagi Allah yang telah mengembalikan rohku dan yang telah menyehatkan badanku serta yang telah memperkenankan diriku untuk ingat kepadaNya.” 
Read More
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Older Posts Home

CONTACT

Rida Nadiatul Huda

Popular Posts

  • Maher Zain - Always be There Lyrics
  • [TOEFL] FAQ (Frequently Asked Questions)
  • 8 Etika Minum yang Diajarkan Rasulullah
  • Etika Mencari Rezeki agar Mendapat Keberkahan dari Allah

Categories

BEAUTY (1) BLOGGING (4) CERMINAN KEHIDUPAN RASULULLAH (9) education (2) HEALTH (2) ISLAM (10) Maddi Jane (2) Madilyn Bailey (1) Maher Zain (1) MY CREATIONS (1) Pengalaman (1) SONG LYRICS (7) Tips (3) TOEFL (3)

Blog Archive

About Me

Unknown
View my complete profile

Sample Text

Copyright © Rida Nadia | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates